Berita Entertainment Lifestyle Unik & Aneh 

HABISKAN DANA HINGGA 1 MILYAR HANYA UNTUK GAME ONLINE ? KENAPA TIDAK ? TUTUR PRIA INI

ASIAN GAMES 2018 – Alkisah, ada tiga bangsa di Planet Novus yang tak pernah bisa akur ; Accretia, Bellato dan Cora. Perang terjadi setiap hari seolah tanpa henti. Sebabnya tak jauh berbeda dengan pertikaian antar negara di bumi. Mereka berebut tambang-tambang mineral bernilai tinggi. Saudara menjadi musuh, kawan pun berubah jadi lawan.

Ketiga bangsa itu masing-masing memiliki pemimpin yang disebut sebagai Archon. Seorang Archon diangkat atas pilihan rakyatnya lewat pemungutan suara. Seperti presiden, Archon juga memiliki hak prerogatif untuk mengangkat menteri atau anggota dewan. Hari itu, Archon dari bangsa Accretia baru saja naik tahta. Sebagai pemimpin baru tentu ia punya kewajiban melindungi rakyatnya dari serangan bangsa lain.

Untuk meningkatkan kekuatan, dia ingin menambah koleksi senjata. Salah satunya sebuah tombak yang kabarnya dapat melipatgandakan akurasi serangan. Namun bangsa Accretia tengah mengahadapi krisis. Harga jual tombak bernama Black Lance of Leon itu bukan main mahalnya. Bila dirupiahkan harganya bisa mencapai Rp 30 juta, bahkan lebih mahal lagi. Hampir seharga motor Kawasaki Ninja RR. Accretia memang hanya nama bangsa dalam game online Rising Force. Namun cerita soal tombak Black Lance dalam Rising Force yang dijual Rp 30 juta benar-benar kisah nyata.

Sosok di balik Archon yang galau hendak membeli tombak Black Lance itu adalah M. Satrio Arbyanto Yudhono. Rikon, begitu ia disapa, sudah sangat akrab dengan game sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Sudah lebih dari sepuluh tahun bermain Rising Force, dia sudah hapal betul seluk beluknya. Kini setelah menjadi mahasiswa Fakultas Hukum di Universitas Trisakti, Jakarta, Rikon masih tetap tak bisa lepas dari Rising Force.

Rikon pun menuturkan nikmatnya menjadi pemimpin khayalan di Accretia. “Karakter kita jadi punya aura. Itu sangat berguna buat nambah damage, defense sama attack. Dan yang jadi incaran pemain lain, jabatan Archon itu bikin karakter kita jadi terkenal,” kata Rikon. Menjadi Archon di Rising Force ini ongkosnya tak kecil (ini uang beneran, bukan uang game), jauh lebih mahal ketimbang jadi rakyat jelata.

Tapi namanya sudah nyandu Rising Force, Rikon tak sayang membayar puluhan juta rupiah, bahkan menghabiskan ratusan juta rupiah, demi mempertahankan posisi dan gengsi sebagai Archon. “Transaksi Rp 30 juta itu cuma salah satu dari sekian banyak deal yang udah saya lakuin selama main Rising Force,” kata Rikon. Bagi mereka yang tak pernah main Rising Force, barangkali sulit untuk paham, buat apa buang duit sebanyak itu hanya demi karakter dalam game. “Karena hobinya main game, kalau sudah berani keluarin duit ya harus terima risiko uangnya nggak balik.”

Game Rising Force yang dikembangkan oleh CCR Inc. pernah berjaya pada awal 2006 hingga 2010. Konsepnya menggabungkan antara sains fiksi dan fantasi. Kemunculan game RF Online sempat menggeser pamor game itu. Namun belakangan Lyto yang memegang hak publikasi RF di Indonesia, meluncurkan kembali Rising Force ‘rasa lawas’ dengan nama RF OnlineClassic.

Permainan tentu dibuat agar terus menerus dapat menjadi candu. Itu sebabnya konsep game harus dirancang komplek namun tetap menarik. Seperti game bergenre MMROPG kebanyakan, Rising Force memiliki sistem ekonomi yang mirip dengan dunia nyata. Karakter Rikon dan pemain lain memiliki rekening bank dan profesi. Tugas Rikon untuk mendandani sekaligus membeli perlengkapan yang dapat membuat karakternya semakin kece alias GG banget.

“Tapi makin ke sini, perputaran uang di game Rising Force makin gila dibandingkan dulu. Orang-orang makin berani ngeluarin duit. Saya sendiri baru 6 bulan main yang classic sudah habis Rp 100 juta. Itu masih banyak pengeluaran yang nggak kehitung,” ujar Rikon yang sering mejeng di server Solar. Mungkin orang akan heran, dari mana anak kuliahan seperti Rikon mendapatkan duit sebanyak itu dan mengongkosi hobinya bermain game yang sangat boros itu. Meski masih berstatus mahasiswa, Rikon punya beragam bisnis, mulai dari membantu usaha orang tua sampai jasa penyewaan mobil dan cuci sepatu.

Bagi penggemar game fanatik seperti Rikon, merogoh dompet hingga puluhan juta mungkin tak jadi soal. Mereka tak sayang habis-habisan demi karakternya dalam Rising Force. Tapi bukan berarti orang dengan isi dompet pas-pasan tidak bisa bermain game semacam ini. Kemenangan dalam perang di game tak melulu diraih dengan uang. Bagi pemain Rising Force seperti Tanwirul Jojo, yang tak kalah maniaknya dengan Rikon, ada juga istilah play to win.

Mata uang game sampai perkakas langka di Rising Force sesungguhnya bisa didapatkan secara cuma-cuma. Syaratnya harus sabar. Pemain bisa melakukan farming , istilah untuk mendapatkan barang dengan membunuh monster seperti Thunder Lizard, monster yang nilai expnya cukup besar. Tapi farming tidak bisa dilakukan hanya dengan sekali bunuh. Pemain harus melakukannya sebanyak mungkin.

“Tapi makin ke sini, perputaran uang di game Rising Force makin gila dibandingkan dulu. Orang-orang makin berani ngeluarin duit” tutur M. Satrio Arbyanto Yudhono alias Rikon, pemain game Rising Force Online

Jojo pernah mencobanya namun tak bertahan lama. “Sempat coba nggak ngeluarin uang tapi ternyata makan waktu lama banget. Kalau ketemu perkakas gratisan kebanyakan yang sampah. Gua kan orangnya nggak sabaran. Pengin punya karakter yang hebat juga. Karena pengin punya barang instan, ya ujungnya beli juga,” kata dokter muda yang sedang praktik di sebuah rumah sakit di Bekasi ini.

Ada cara lain untuk mendapatkan senjata-senjata langka itu. Pemain Rising Force pasti sudah sangat akrab dengan istilah tempa yakni mengkombinasikan berbagai macam item dengan harapan dapat menghasilkan senjata langka. Tak ada pakem cara menempa, kebanyakan hasilnya hanya soal hoki si pemain. Salah-salah mengkombinasikan item untuk menciptakan senjata malah bisa sia-sia. Tapi jika berhasil, senjata tempaan ini bisa dihargai sangat mahal. Tak heran jika pemain Rising Force juga bisa balik modal atau mendapatkan keuntungan dari menempa.

Bukan cuma barang langka yang dijual dengan sistem lelang, senjata virtual pun juga demikian. Jojo beberapa kali ikut dalam pelelangan itu. “Ada satu item satu-satunya di server Lunar gua doang yang punya. Dari lelang kemarin dapat satu set harganya Rp 10 juta,” Jojo menuturkan. Sudah bertahun-tahun main Rising Force, jumlah duit yang dihabiskan Jojo untuk main game ini besar juga. “Kalau dijumlahin semua pengeluaran gua untuk Ricing Force dari awal main pas SMP totalnya udah Rp 500 juta lah.”

Mendengar jumlah duit yang dibelanjakan Jojo di Rising Force bisa bikin kita tersedak. Padahal dia bukan yang paling royal di Rising Force. Ada lumayan banyak pemain Rising Force di Indonesia yang menghabiskan duit ratusan juta rupiah. Mereka kebanyakan sudah menjadi pengusaha. “Game ini kan memang sempat vakum dan sekarang di-remake. Jadi yang dulu main masih SMP, sekarang sudah jadi pengusaha. Begitu main lagi sekalian nostalgia, keluarin uangnya juga jor-joran. Ada kenalan gua yang baru satu tahun balik main Rising Force udah ngabisin Rp 1 miliar,” tutur Jojo.

Dalam sejarah ada sebuah transaksi paling besar yang dilakukan untuk membeli sebuah item game. Proses jual beli itu bahkan masuk dalam catatan Guiness Book of World Records. Perusahaan investasi bernama SEE Virtual World membayar uang sebesar $ 6 juta atau sekitar Rp 86 miliar kepada MindArk, pengembang game Entropia Universe. Angka tersebut digunakan untuk membayar Planet Calypso dan seluruh fasilitas yang ada di dalamnya. Sejak resmi dibuka pada 2003 silam, Planet Calypso telah dikunjungi lebih dari 950.000 orang setiap tahunnya.

Awan Setiawan tak menyesal sudah menghabiskan duit ratusan juta rupiah selama delapan tahun bermain game Audition AyoDance. Di AyoDance, dia menemukan istri dan banyak teman.

Game kasual buatan T3 Entertainment ini awalnya diluncurkan di Korea Selatan. Namun sejak diedarkan di Indonesia di bawah naungan Megaxus Infotech, game ini tiba-tiba menjadi candu di kalangan anak sekolah. Game desktop ini bahkan masih bertahan sampai sekarang. Awan kenal dengan AyoDance saat masih kuliah. Saat masih duduk di bangku SMA di Bandung, seperti teman-temannya, Awan juga tergila-gila dengan game Ragnarok.

Lama-lama ia jenuh juga. Apalagi sejak jadi mahasiswa, Awan disibukkan dengan kegiatan kampus. “Gua sempat pensiun main game online karena udah kuliah dan lagi jenuh juga. Tiba-tiba temen gua nawarin main AyoDance. Dia bilang ‘Yuk buat nyari cewek, banyak cewek cantik di sana. Mainnya juga gampang, cuma pencet-pencet doang’,” Awan menirukan bujukan temannya. Ternyata memang benar, permainan ini didominasi perempuan. Meskipun tak begitu pandai menggerakkan karakter dengan memainkan anak panah di keyboard, Awan jadi ketagihan juga.

Game ini tak hanya memungkinkan pemain untuk sekedar main bareng dan meningkatkan level. Setiap karakter diberikan kesempatan mencari pasangan. Sekilas mirip aplikasi dating online. Tak hanya itu, jika berjodoh mereka bahkan bisa menikah secara virtual. Konsep ini membuat para pemain dapat menjalin interaksi dan hubungan lebih akrab. Selain itu, pemain juga dapat membuat perkumpulan keluarga dalam bentuk klub. Aktivitasnya tak cuma sekedar bermain di game, tapi juga mengadakan acara kumpul-kumpul.

Di AyoDance, Awan dikenal sebagai pendiri dan pemimpin klub 711-StayReal. “Game ini unik. Kita nggak terlalu butuh keterampilan. Kalau lagi main dan bertemu teman enak, malah kebanyakan ngobrol. Makanya AyoDance dikenal sebagai game buat ajang cari jodoh,” Awan bercerita sembari menyeringai. Ucapan Awan memang tak salah. Ia sendiri bahkan bertemu perempuan yang kini menjadi istrinya melalui game kasual ini. “Gua dapat istri juga dari AyoDance. Sahabatan sama dia di game udah 5 tahun. Eh malah jadian dan menikah.”

Yang membuat Awan makin populer di game bukan cuma menjadi pemimpin klub. Ia juga dikenal sebagai pemilik karakter tajir. AyoDance sebetulnya dapat dimainkan secara gratis. Godaannya terletak pada barang-barang di item mall. Layaknya sebuah pusat perbelanjaan, isinya beraneka ragam aksesoris dan pakaian. Pemain bisa belanja dan mendandani karakternya sesuka hati asal punya duit. Harga sebuah baju virtual permanen yang bagus bisa mencapai Rp 250 ribu. Kalau dikonversi mungkin bisa ditukar dengan tiga kaus oblong di dunia nyata. Permainan ini konsepnya mirip dengan game Bust A Groove di konsol PlayStation.

“Awalnya gua coba-coba isi Rp 50 ribu. Ternyata sampai sekarang total udah lebih dari Rp 370 juta. Nggak terasa sih karena sudah lama juga mainnya. Nggak mau dihitungin sebenarnya, soalnya kalau diingetin malah bikin pusing,” canda Awan. Meski jika ingat jumlah duit yang sudah dia keluarkan rasanya agak bikin sesak nafas, Awan tidak menyesal. “Empat tahun lalu usaha sembako gua sempat goyang. Anak AyoDance yang bantuin gua kasih pinjaman Rp 40 juta. Dan gua juga ketemu istri di game. Kalau dipikir lagi ternyata worth it banget dengan apa yang gua dapetin.”

 

Berita ini dipersembahkan oleh Pasti Poker – Poker 99 – Poker Online Terpercaya – Judi Online – Situs Judi Online– Ceme Online – Pasti JP – Jackpot Terbesar – Jackpot Tertinggi

Related posts

Leave a Comment