Berita Entertainment 

BANGKITNYA INDUSTRI E-SPORTS DI INDONESIA

ASIAN GAMES 2018 – Ada yang baru pada perhelatan Asian Games di Jakarta dan Palembang yang akan digelar mulai pertengahan Agustus mendatang. Ada satu cabang pertandingan di mana pemainnya tak perlu banyak memeras keringat. Namanya juga esport alias olahraga elektronik. Siapa pemenangnya adalah mereka yang paling jago bermain game. Meski statusnya masih eksibisi, tapi ini pertama kalinya esport masuk arena Asian Games.

Satu dari enam game yang dipertandingkan dalam Asian Games 2018 ini adalah Arena of Valor (AoV). Selain AoV, lima game lain dari cabang esport ini adalah PES (Pro Evolution Soccer), League of Legends, Clash Royale, Hearthstone dan Starcraft 2. Bagi para maniak game di ponsel maupun komputer, laga di Asian Games ini merupakan satu kehormatan dan pengakuan bahwa bermain game bukan kegiatan buang-buang waktu dan tak ada gunanya.

Salah satu anggota tim nasional Indonesia untuk AoV adalah Glen Richard Pangalila. Glen mendapatkan kesempatan mewakili merah putih setelah melewati proses seleksi yang panjang. Bersama tim eSports DG alias Dunia Games, Glen memperebutkan juara satu sampai lima dari total 5000 peserta.

“Terharu dan bangga udah campur aduk waktu awal dengar terpilih. Pertama kali yang saya kasih kabar orang tua,” Glen bercerita saat pertama kali mendengar pengumuman nama pemain Timnas AOV. Ajang internasional ini sangat penting bagi Glen, terutama untuk membuktikan kemampuannya kepada kedua orang tuanya. Selama ini Glen yang dikenal dengan nama DG Kurus kerap mengalami masalah serupa dengan pemain game lain di luar sana yaitu restu dari orang tua.

Rata-rata orang masih punya anggapan buruk terhadap permainan digital ini. Game kerap dianggap sebagai sumber kejengkelan para orang tua, biang dosa yang menyebabkan anak-anak bolos sekolah dan jarang belajar. Jangankan memilih jalan hidup sebagai atlet esport, orang tua mungkin akan mati-matian melarang anaknya bermain game. Fase ini menjadi masa kelam bagi semua orang yang pernah mencicipi manisnya bermain game di bangku sekolah.

“Target saya tetap juara. Penginnya juara 1, apalagi kita tuan rumah. Saya nggak mau sia-siakan kesempatan seperti ini, apalagi Asian Games cuma digelar 4 tahun sekali.” Tutur Glen Richard Pangalila, anggota tim AoV Indonesia di Asian Games 2018

Glen, sama ceritanya dengan para maniak game, juga melewati pernah melewati masa-masa kabur dari sekolah dan uang jajan hanya demi bermain Ragnarok di warnet. “Setiap pemain profesional pasti pernah bolos sekolah. Bandelnya itu ya balik lagi ke pandangan masyarakat, karena mereka menganggap sebelah mata game. Padahal kalau mereka mau terbuka dan mendukung, nggak akan terjadi begitu,” ujar pemilik akun Youtube, Kurus Esports, ini. Dia berharap, dipertandingkannya esport di Asian Games akan membuka mata dan hati para orang tua. “Istilahnya, negara aja dukung, masa orang tua nggak.”

Orang tua Glen memang tidak pernah terang-terangan melarang anaknya bekerja di dunia game. Namun mereka lebih senang jika Glen memilih pekerjaan ‘kantoran’ yang dianggap lebih jelas masa depannya. Glen sempat menerima tawaran bekerja di sebuah perusahaan publisher game asal Vietnam. Di sela-sela kesibukannya itu ia masih mengasah kemampuannya bermain AoV, game buatan Tencent Games yang pernah dinobatkan Google Play sebagai game terpopuler di Indonesia setahun silam.

Pulang bekerja, Glen biasanya langsung ‘ngegas’ alias mendorong rankingnya agar masuk dalam jajaran Top Rank di AoV. Berkat prestasinya yang sering bertengger di posisi Top Rank, Glen dilirik tim eSports Dunia Games (DG), salah satu klub esports besar di Indonesia.

“Awal tahun lalu pas masuk tim DG, saya masih dapat pertanyaan dari ayah saya, ‘Kamu yakin mau jalani hidup seperti ini?’ Saya jawab, ‘Saya sangat yakin dan akan saya buktikan’. Setelah seleksi Timnas dan akhirnya terpilih, mereka sekarang jadi lebih paham dengan jalan pikiran saya,” ujar Glen. Di DG, Glen merangkap sebagai Leader sekaligus Manager. Bersama DG, dia pernah menyabet juara 3 di panggung AOV Indonesia Games Xperience 2018.

Untuk tim AoV di Asian Games, Glen yang telah mengenal game online sejak SMP, didapuk menjadi kapten. Menyiapkan strategi yang jitu, menurut Glen, merupakan kunci kemenangan. Bermain game lima lawan lima ini bisa dibilang gampang-gampang susah. Karena yang diperlukan bukan hanya keterampilan pemain namun juga kekompakan tim. Masing-masing pemain akan mendapat tugas khusus. Dalam AoV, ada peran sebagai Midlaner, Abbysal Laner, DS Laner yang bertugas bertarung di sekitar jalur pertarungan. Ada pula Junggler yang bertugas membantu pemain di lane. Sedangkan Glen bertugas menjadi observer untuk mengatur ritme serangan dan menjadi mata bagi team. Ibarat seorang playmaker di lapangan sepak bola.

Kurang dari sebulan lagi, Glen dan atlet AOV lainnya akan berhadapan dengan tim-tim berat seperti China dan Korea Selatan. Latihan sudah rutin digelar, namun Glen dan tim masih menghadapi kendala. Selain karena format dan fasilitas latihan tidak disediakan penyelenggara acara, anggota tim AoV dari klub Evos terpaksa absen dalam latihan. Evos Hans dan Evos Ahmad baru saja kembali ke tanah air sejak mengikuti pertandingan AoV World Cup di Amerika Serikat.

“Lawan berat-berat semua. Kemampuan mereka jauh lebih unggul karena perkembangan esport mereka lebih cepat. Di negara mereka, gamenya sudah lebih dulu keluar ketimbang Indonesia. Sehingga mereka bisa main lebih lama,” ujar Glen. Sementara di Indonesia, AoV baru sekitar satu tahun dirilis. Tak meragukan kemampuan kawan setimnya, Glen tetap optimistis Indonesia dapat menorehkan prestasi terbaik dalam Asian Games 2018. “Saya pribadi yakin peluangnya besar banget. Target saya tetap juara. Penginnya juara 1, apalagi kita tuan rumah. Saya nggak mau sia-siakan kesempatan seperti ini, apalagi Asian Games cuma digelar 4 tahun sekali.”

Bahkan seorang Michael Jordan, salah satu bintang bola basket terbesar di NBA, juga pernah mengalami masa pahit. Sepanjang karirnya, ia pernah melakukan 9000 tembakan meleset. Jordan juga pernah kalah dalam 300 pertandingan. Paling tidak, 26 kali ia dipercaya melakukan tembakan penentu kemenangan namun gagal. “Saya telah berkali-kali mengalami kegagalan dalam hidup. Dan itulah sebabnya, saya bisa berhasil,” kata Michael Jordan suatu ketika.

Sebelum terpilih mewakili tim esport Indonesia untuk game League of Legends (LOL), Peter Tjahjadi pun pernah berkali-kali jatuh dan gagal. Peter yang baru saja menamatkan SMA ini telah mengenal game sejak masih duduk di bangku SD. Ayahnya merupakan penikmat game di komputer seperti Diablo serta Comment and Conquer. Jika kebanyakan anak lain main di warnet, Peter lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dengan perangkat komputer milik ayahnya.

Bahkan ketika koneksi internet masih menjadi barang langka, ia telah memilikinya di rumah. “Saya kenal komputer mulai dari umur 3 tahun. Begitu masuk SD kelas 3 atau 4, papa saya pasang internet di rumah. Dari situ mulai main game online Point Blank. Justru uniknya papa, saya kalau main game selalu didukung,” Peter yang tumbuh besar di Bandung bercerita. Bahkan ayahnya sendiri yang mengajarinya bermain game.

Malah ayahnya pula yang mendukungnya mengikuti kompetisi game. Peter tak begitu ingat kompetisi game yang pertama kali ia ikuti. Peter memulai kompetisi game pertamanya dalam skala regional. Saat itu lawannya kebingungan sebab Peter masih SMP sedangkan lawannya anak-anak SMA dan mahasiswa. Boleh dibilang, ia menjadi peserta termuda.

“Gugup sih karena saya masih kecil sedangkan yang lain udah gede-gede semua. Para pemain profesional pada bingung, ‘Kok ada anak kecil?’” ujar Peter. Saat itu Ayahnya ikut menemani dan duduk di barisan belakang. Pertandingan itu menjadi kekalahan pertama Peter dalam perjalanan karirnya. “Baru masuk babak penyisihan pertama, saya langsung pulang karena kalah. Tadinya saya udah nggak mau ikut lagi kapok. Tapi Papa saya malah yang suruh saya ikut lagi. ‘Kamu baru sekali kalah kok udah nggak mau lagi’. Wah saya udah kalah berpuluh-puluh kali baru menang.”

Sejak bermain game LOL dan memenangkan sejumlah pertandingan seperti Juara 5 Liga Nasional (LGS) season 4 bersama Genesis Gaming, Peter yang dikenal dengan nama Airliur itu semakin memantapkan karirnya sebagai atlet esport dengan bergabung dengan klub Head Hunters. Menjelang Asian Games 2018, latihan yang dijalani Peter semakin intens. Ia pun harus menunda kuliahnya di Institut Teknologi Harapan Bangsa, Bandung, demi ajang ini.

“Sejak April lalu tingal di gaming house di BSD buat persiapan Asian Games. Kuliah juga harus saya korbankan karena saya nggak pernah mewakili indonesia di internasional. Begitu dapat kesempatan harus saya maksimalkan,” kata Peter. Biasanya dia dan timnya mulai berlatih dari jam 10 pagi dan kadang bisa berlanjut sampai dinihari. Sesi latihan itu disertai beberapa kali jeda untuk istirahat. Peter dan enam tim lainnya memang tidak main-main. Sebab tim lawannya seperti negara Korea Selatan tidak segan-segan mendatangkan pemain pro kelas dunia untuk menyambut pesta olahraga ini.

Namun Peter yang mendapatkan peran penting sebagai Attack Damage Carry ini melihat sebuah peluang kemenangan. Salah satunya karena game LOL baru saja melakukan update. Pembaruan ini menyebabkan beberapa perubahan dalam game sehingga pemain pro sekalipun harus kembali beradaptasi.

“Saya dengar ada pemain profesional yang diturunkan jadi pemain cadangan karena patch ini. Ibaratnya mereka sudah biasa pakai hero ini, tapi karena patch hero ini jadi kurang cocok banget untuk pegang posisi itu dan akhirnya nggak bisa dipakai. Jadi semua pemain belajar lagi dari nol,” kata Peter. Ia berharap dapat tampil maksimal dalam ajang perlombaan skala internasional perdananya “Harapannya pasti menang. Walaupun nggak juara, yang penting Indonesia nggak malu-maluin.”

 

Berita ini dipersembahkan oleh Pasti Poker – Poker 99 – Poker Online Terpercaya – Judi Online – Situs Judi Online– Ceme Online – Pasti JP – Jackpot Terbesar – Jackpot Tertinggi

Related posts

Leave a Comment